Kamis, 08 Desember 2016

Musim Gugur


MUSIM GUGUR

Fajar menyingsing dari ufuk timur. Mengintip dengan malu-malu di balik awan biru. Burung berkicau dengan riangnya di atas ranting pohon. Embun basah menyentuh permukaan kulitku. Aku duduk di atas bench taman. Pikiranku kosong sepersekian detik.
Aku Bunga gadis berusia 17 tahun. Aku hanya memiliki satu orangtua yang kusebut ia Mama. Papa sudah meninggal sekitar 6 tahun yang lalu. Aku adalah gadis yang divonis dokter mengidap penyakit kanker otak stadium akhir. Tubuhku seakan melemas ketika dokter menyatakan hal tersebut. Begitu juga dengan mama. Namun beliau tetap berusdaha menegarkan hatiku melalui kata-kata bijaknya.
“Ya Tuhan, seandainya umurku tidak panjang aku ingin menjadi orang yang berguna. Setidaknya untuk orang-orang yang kusayangi” gumamku pelan. Lagi-lagi air mata ini mengaliri pipiku.
Aku mempunyai mimpi bahwa suatu saat aku akan menjadi sastrawan terkenal. Tapi apa dayaku? Untuk berpikir keras saja aku tidak diperbolehkan. Namun, sebisa mungkin aku berusaha untuk membuat sebuah karya tulis yang nantinya ketika aku sudah tiada aku akan tetap dapat diingat melalui karya-karyaku.
***
“Bunga sayang, ini waktunya bagimu untuk meminum obat” ujar mama sambil menenteng sekantong plastik berisi obat-obatan. Tidak lupa dengan sebotol air mineral. Beliau dengan sabar dalam merawatku.
Sejujurnya aku sudah bosan dengan semua ini. Obat-obatan, kemoterapi, dan masih banyak terapi-terapi lain yang harus kujalani untuk mematikan sel-sel kanker. Tetapi tetap saja nihil. Malah efek samping dari terapi-terapi itu sangat menyiksaku.
“Iya ma” aku menjawab pelan ujaran mama dan lalu kuraih obat-obatan itu. Kutengguk sedikit air mineral untuk mendorong benda mungil yang berada di tenggorokanku segera tertelan. Kulihat mama tersenyum getir. Aku tahu beliau juga sangat menderita melihat utri semata wayangnya harus menjalani hal sedemikian rupa karena penyakit. Sesekali beliau terisak dan mengusap matanya yang mulai berair.
“Maaf sayang, mama ada urusan di kantor. Mama harus meninggalkanmu saat ini juga. Tidak apa-apa kan?” mama membelai rambutku.
“Tidak apa-apa ma. Bunga tahu apa yang mama lakukan juga demi kebaikan Bunga”.
“ Mama hanya merasa bersalah. Di saat kamu sakit mama malah sibuk di kantor” aku melihat sorot mata penyesalan pada Mama. Aku ingin sekali memeluknya erat saat itu.
Sudah sekitar satu jam aku sendiri di kamar rumah sakit yang bernuansa putih. Aku meraih pensil dan kertas yang tergeletak di atas meja. Aku ingin mengatakan semua yang ada di dalam hatiku melalui karya-karyaku. Aku ingin membuat sebuah tulisan yang menggambarkan kehidupanku ketika aku sehat seperti sedia kala sampai aku benar-benar lemah tak berdaya karena penyakit.
MUSIM GUGUR
Dedaunan rimbun menghijau di taman
Berdiri dengan elok nan kuat
Menjadi permata kota metropolitan
Waktu berlalu...
Musim berganti...
Takdirmu berkehendak ya Tuhan
Dedaunan mengering dan kecokelatan
Berguguran menjadi sampah kota metropolitan
Waktu berlalu...
Musim berganti...
Takdirmu berkehendak kembali ya Tuhan
Dedaunan menghijau kembali
Meneduhi setiap sudut kota metropolitan
Andai waktu bisa diperlambat, dan kematian bisa ditunda. Aku benar-benar masih ingin merasakan kasih sayang orang-orang di sekitarku. Menjadi yang terbaik untuk mereka.
Aku memiliki tiga remaja perempuan yang kusebut mereka dengan bestie. Mereka yang selalu ada disaat-saat terburukku seperti sekarang. Mereka menjadi orang-orang terpentingku untuk menumbuhkan semangat dalam melawan penyakit. Mereka adalah Elma, Sesil, dan Windy.
“Hai cimiku.. bagaimana kabarmu pagi ini?” suara nyaring yang khas milik Sesil menyeruak ketika ia mulai menjejaki lantai kamarku. Disusul dengan kedua bestie ku yang bersuara tidak kalah nyaringnya. Hening pun beringsut menjadi ramai dan bising karena mereka.
“Hai teman-teman. Kabarku pagi ini baik” setidaknya aku harus terlihat sehat di depan mereka.
“Wah syukurlah kalau begitu. Kami sengaja datang pagi-pagi supaya bisa menjengukmu lebih lama cimi” tambah Windy menyeringai menampakkan lesung pipitnya.
“Bener tuh” celetuk Elma.
“Ssst.. ini rumah sakit. Kalian kecilkan dong volume suara kalian heheh” sahutku yang mulai sadar kamar nomor 304 mulai ramai sejak kedatangan mereka bertiga.
“Ups, maafkan kami cimiii”
Betapa bahagianya bercanda ria dengan mereka. Hingga waktu pun tak terasa sudah menjelang sore. Aku merasa sehat. Aku merasa tidak ada lagi beban di dalam pikiran. Semuanya seperti normal kembali. Aku tertawa lepas bersama mereka. Melupakan sejenak penyakit yang bisa kapan saja menghentikan nafasku.
Pahlawan wanitaku datang. Beliau tampak letih. Aku merasa bahwa aku menjadi beban berat hidupnya. Biaya pengobatanku cukup mahal untuk dipikulkan kepada seorang tulang punggung keluarga. Apalai tulang punggung itu wanita, seperti mama. Aku tersedu, aku menangis ketika aku tidak dapat melakukan sesuatu yang berarti untuk mama. Aku berpikir keras bagaimanapun aku harus bisa mengganti peluh beliau dengan rasa bangga. ‘Aku berjanji akan dapat membanggakanmu ma’ gumamku dalam hati.
***
Waktu telah bergulir. Tubuhku seakan mulai lemas. Lenyap sudah kekuatanku untuk berjalan. Bahkan untuk berdiri saja aku tidak kuat menopang kaki. Lantas bagaimana aku dapat melaksanakan janjiku kepada mama? ‘Ya Tuhan, tolong aku. Aku ingin menepati janjiku kepada mama. Berilah aku kekuatan untuk kali ini saja’ doaku dalam hati sembari berusaha bangkit dari ranjang tidur.
Mataku buram. Namun aku yakin aku pasti bisa. Aku mencopot jarum infus di tanganku dan mengenakan sweater cokelat pemberian papa. Secarik kertas kumasukkan ke dalam amplop putih dan kubawa amplop itu. Aku berjalan terseok-seok menyusuri koridor rumah sakit. Berharap petugas rumah sakit tidak ada yang mengetahui kalau aku adalah pasien mereka. Kupercepat langkahku. Ini ajaib. Aku seakan mampu untuk berlari sekalipun. Tuhan mengabulkan doaku. ‘Terimakasih Tuhan, engkau telah mengabulkan doaku’. Semoga janjiku kepada mama dapat terlaksanakan juga.
Tempat ini sangat indah. Namun aku tidak melihat seorang pun di sini. Aku memetik setangkai mawar dan kucium baunya yang semerbak. Aku senang di tempat ini. Tapi dimanakah aku? Tempat ini seperti asing. Sayup-sayup aku mendengar suara mama dan suara bestie. Sangat kecil hampir tak terdengar. Aku berlari mengelilingi taman untuk mencari mereka. Aku sadar aku sedang tersesat di tempat yang tidak kukenali.
“Bunga sayang... Jangan tinggalkan mama nak” sayup-sayup lagi kudengar suara mama.
“Bunga disini ma” aku berteriak menjawab suara mama. Namun nihil. Aku tidak mendapat balasan apa-apa dari mama.
Seseorang menyentuh bahuku. Aku menoleh ke belakang. Kulihat papa sedang berdiri dengan senyumnya yang khas yang selama ini aku dan mama rindukan. Beliau membelai kepalaku. Lantas membimbingku untuk berdiri.
“Ayo sayang ikutlah dengan papa. Papa akan membawamu ke tempat yang sangat indah” tukas papa. Seolah aku terhipnotis aku memeluk papa kemudian mengekornya di belakang.
***
Mama membawa secarik kertas. Menunjukkan isi kertas itu di depan tempat peristirahatanku. Beliau menangis haru.
“Mama bangga bisa memiliki putri sepertimu Bunga” tukas mama.
Kini tibalah saatnya aku pergi. Aku ingin menjadi seperti musim gugur yang berawal dari daun segar, mengering, kemudian gugur lalu tumbuh kembali daun-daun segar. Aku ingin berawal dari sehat, jatuh sakit, kemudian berakhir umurku, lalu aku hidup kembali melalui karya-karyaku.

SELESAI