Kamis, 08 Desember 2016

Musim Gugur


MUSIM GUGUR

Fajar menyingsing dari ufuk timur. Mengintip dengan malu-malu di balik awan biru. Burung berkicau dengan riangnya di atas ranting pohon. Embun basah menyentuh permukaan kulitku. Aku duduk di atas bench taman. Pikiranku kosong sepersekian detik.
Aku Bunga gadis berusia 17 tahun. Aku hanya memiliki satu orangtua yang kusebut ia Mama. Papa sudah meninggal sekitar 6 tahun yang lalu. Aku adalah gadis yang divonis dokter mengidap penyakit kanker otak stadium akhir. Tubuhku seakan melemas ketika dokter menyatakan hal tersebut. Begitu juga dengan mama. Namun beliau tetap berusdaha menegarkan hatiku melalui kata-kata bijaknya.
“Ya Tuhan, seandainya umurku tidak panjang aku ingin menjadi orang yang berguna. Setidaknya untuk orang-orang yang kusayangi” gumamku pelan. Lagi-lagi air mata ini mengaliri pipiku.
Aku mempunyai mimpi bahwa suatu saat aku akan menjadi sastrawan terkenal. Tapi apa dayaku? Untuk berpikir keras saja aku tidak diperbolehkan. Namun, sebisa mungkin aku berusaha untuk membuat sebuah karya tulis yang nantinya ketika aku sudah tiada aku akan tetap dapat diingat melalui karya-karyaku.
***
“Bunga sayang, ini waktunya bagimu untuk meminum obat” ujar mama sambil menenteng sekantong plastik berisi obat-obatan. Tidak lupa dengan sebotol air mineral. Beliau dengan sabar dalam merawatku.
Sejujurnya aku sudah bosan dengan semua ini. Obat-obatan, kemoterapi, dan masih banyak terapi-terapi lain yang harus kujalani untuk mematikan sel-sel kanker. Tetapi tetap saja nihil. Malah efek samping dari terapi-terapi itu sangat menyiksaku.
“Iya ma” aku menjawab pelan ujaran mama dan lalu kuraih obat-obatan itu. Kutengguk sedikit air mineral untuk mendorong benda mungil yang berada di tenggorokanku segera tertelan. Kulihat mama tersenyum getir. Aku tahu beliau juga sangat menderita melihat utri semata wayangnya harus menjalani hal sedemikian rupa karena penyakit. Sesekali beliau terisak dan mengusap matanya yang mulai berair.
“Maaf sayang, mama ada urusan di kantor. Mama harus meninggalkanmu saat ini juga. Tidak apa-apa kan?” mama membelai rambutku.
“Tidak apa-apa ma. Bunga tahu apa yang mama lakukan juga demi kebaikan Bunga”.
“ Mama hanya merasa bersalah. Di saat kamu sakit mama malah sibuk di kantor” aku melihat sorot mata penyesalan pada Mama. Aku ingin sekali memeluknya erat saat itu.
Sudah sekitar satu jam aku sendiri di kamar rumah sakit yang bernuansa putih. Aku meraih pensil dan kertas yang tergeletak di atas meja. Aku ingin mengatakan semua yang ada di dalam hatiku melalui karya-karyaku. Aku ingin membuat sebuah tulisan yang menggambarkan kehidupanku ketika aku sehat seperti sedia kala sampai aku benar-benar lemah tak berdaya karena penyakit.
MUSIM GUGUR
Dedaunan rimbun menghijau di taman
Berdiri dengan elok nan kuat
Menjadi permata kota metropolitan
Waktu berlalu...
Musim berganti...
Takdirmu berkehendak ya Tuhan
Dedaunan mengering dan kecokelatan
Berguguran menjadi sampah kota metropolitan
Waktu berlalu...
Musim berganti...
Takdirmu berkehendak kembali ya Tuhan
Dedaunan menghijau kembali
Meneduhi setiap sudut kota metropolitan
Andai waktu bisa diperlambat, dan kematian bisa ditunda. Aku benar-benar masih ingin merasakan kasih sayang orang-orang di sekitarku. Menjadi yang terbaik untuk mereka.
Aku memiliki tiga remaja perempuan yang kusebut mereka dengan bestie. Mereka yang selalu ada disaat-saat terburukku seperti sekarang. Mereka menjadi orang-orang terpentingku untuk menumbuhkan semangat dalam melawan penyakit. Mereka adalah Elma, Sesil, dan Windy.
“Hai cimiku.. bagaimana kabarmu pagi ini?” suara nyaring yang khas milik Sesil menyeruak ketika ia mulai menjejaki lantai kamarku. Disusul dengan kedua bestie ku yang bersuara tidak kalah nyaringnya. Hening pun beringsut menjadi ramai dan bising karena mereka.
“Hai teman-teman. Kabarku pagi ini baik” setidaknya aku harus terlihat sehat di depan mereka.
“Wah syukurlah kalau begitu. Kami sengaja datang pagi-pagi supaya bisa menjengukmu lebih lama cimi” tambah Windy menyeringai menampakkan lesung pipitnya.
“Bener tuh” celetuk Elma.
“Ssst.. ini rumah sakit. Kalian kecilkan dong volume suara kalian heheh” sahutku yang mulai sadar kamar nomor 304 mulai ramai sejak kedatangan mereka bertiga.
“Ups, maafkan kami cimiii”
Betapa bahagianya bercanda ria dengan mereka. Hingga waktu pun tak terasa sudah menjelang sore. Aku merasa sehat. Aku merasa tidak ada lagi beban di dalam pikiran. Semuanya seperti normal kembali. Aku tertawa lepas bersama mereka. Melupakan sejenak penyakit yang bisa kapan saja menghentikan nafasku.
Pahlawan wanitaku datang. Beliau tampak letih. Aku merasa bahwa aku menjadi beban berat hidupnya. Biaya pengobatanku cukup mahal untuk dipikulkan kepada seorang tulang punggung keluarga. Apalai tulang punggung itu wanita, seperti mama. Aku tersedu, aku menangis ketika aku tidak dapat melakukan sesuatu yang berarti untuk mama. Aku berpikir keras bagaimanapun aku harus bisa mengganti peluh beliau dengan rasa bangga. ‘Aku berjanji akan dapat membanggakanmu ma’ gumamku dalam hati.
***
Waktu telah bergulir. Tubuhku seakan mulai lemas. Lenyap sudah kekuatanku untuk berjalan. Bahkan untuk berdiri saja aku tidak kuat menopang kaki. Lantas bagaimana aku dapat melaksanakan janjiku kepada mama? ‘Ya Tuhan, tolong aku. Aku ingin menepati janjiku kepada mama. Berilah aku kekuatan untuk kali ini saja’ doaku dalam hati sembari berusaha bangkit dari ranjang tidur.
Mataku buram. Namun aku yakin aku pasti bisa. Aku mencopot jarum infus di tanganku dan mengenakan sweater cokelat pemberian papa. Secarik kertas kumasukkan ke dalam amplop putih dan kubawa amplop itu. Aku berjalan terseok-seok menyusuri koridor rumah sakit. Berharap petugas rumah sakit tidak ada yang mengetahui kalau aku adalah pasien mereka. Kupercepat langkahku. Ini ajaib. Aku seakan mampu untuk berlari sekalipun. Tuhan mengabulkan doaku. ‘Terimakasih Tuhan, engkau telah mengabulkan doaku’. Semoga janjiku kepada mama dapat terlaksanakan juga.
Tempat ini sangat indah. Namun aku tidak melihat seorang pun di sini. Aku memetik setangkai mawar dan kucium baunya yang semerbak. Aku senang di tempat ini. Tapi dimanakah aku? Tempat ini seperti asing. Sayup-sayup aku mendengar suara mama dan suara bestie. Sangat kecil hampir tak terdengar. Aku berlari mengelilingi taman untuk mencari mereka. Aku sadar aku sedang tersesat di tempat yang tidak kukenali.
“Bunga sayang... Jangan tinggalkan mama nak” sayup-sayup lagi kudengar suara mama.
“Bunga disini ma” aku berteriak menjawab suara mama. Namun nihil. Aku tidak mendapat balasan apa-apa dari mama.
Seseorang menyentuh bahuku. Aku menoleh ke belakang. Kulihat papa sedang berdiri dengan senyumnya yang khas yang selama ini aku dan mama rindukan. Beliau membelai kepalaku. Lantas membimbingku untuk berdiri.
“Ayo sayang ikutlah dengan papa. Papa akan membawamu ke tempat yang sangat indah” tukas papa. Seolah aku terhipnotis aku memeluk papa kemudian mengekornya di belakang.
***
Mama membawa secarik kertas. Menunjukkan isi kertas itu di depan tempat peristirahatanku. Beliau menangis haru.
“Mama bangga bisa memiliki putri sepertimu Bunga” tukas mama.
Kini tibalah saatnya aku pergi. Aku ingin menjadi seperti musim gugur yang berawal dari daun segar, mengering, kemudian gugur lalu tumbuh kembali daun-daun segar. Aku ingin berawal dari sehat, jatuh sakit, kemudian berakhir umurku, lalu aku hidup kembali melalui karya-karyaku.

SELESAI

Jumat, 25 November 2016

Biarkan Aku Berdamai dengan Takdir

Dunia bisa katakan, sepucuk surat merah sudah menandakan cinta. Atau mungkin mawar merah. Tidak begitu menurut gadis berambut panjang itu. Matanya nan sayu menatap luas nanar ke depan hamparan savana. Menelanjangi setiap rerumputan beserta kehidupan di sekitarnya.

Hidup memang penuh cerita. Kisahnya mengantarkan kalian pada sebuah imajinasi kotor. Mungkin. Atau barangkali menampar keras kalian sebagai pemuda pemudi era globalisasi. Dialah Fanda. Kisah Fanda.

Kalian tak akan mengenal dan mengerti kisahnya sebelum aku bercerita. Perempuan ini, perempuan gadis yang janda. Mengutarakan sisi kehidupannya kepadaku dengan teramat tulus dan jauuh dari kata dusta. Perempuan kotor yang suci. Pahamilah artinya.

Mata sipit itu menyelidikku seakan-akan memastikan bahwa aku tak akan berniat untuk membongkar rahasianya. Aku dengan gesture yang kutampilkan berhasil memenangkan keyakinannya. "Mereka berhasil merenggutku. Aku dan jiwaku" katanya dengan lirih. "Oh ya? Apa yang mereka renggut?" Tanyaku.

"Sudah tak perlu ditanyakan. Mereka merenggut jiwaku"
"Apa yang sudah terenggut?"
"Jiwaku terenggut"
"Jiwamu?"
"Iya. Jiwaku" begitulah sepotong percakapan kami.

Dia kembali menatap semak belukar seberang yang asyik bergoyang ditiup angin sepoi. Lihatlah gadis ini. Apa yang dia katakan?

"Jiwaku terenggut" kembali ia bercakap.
"Lantas kenapa?"
"Semuanya redup. Mereka, beberapa remaja yang membeli harga seseorang dengan sangat murah!" Balasnya pilu.
Sudah mulai jelas kemana arahnya.

"Katakan perlahan-lahan"
"Kau tau? Kain putih telah tergores setitik air hina dari seseorang" tukasnya.
"Air hina itu membelah diri bak amuba. Mereka menjalari seluruh permukaan kain hingga basah. Lalu kain itu dibuang begitu saja layaknya sampah tak berguna" lanjutnya.

Ya. Seringkali alam bawah sadar lah yang menjerumuskan seseorang ke dalam lembah hitam. Dia-lah; salah satu orang yang terjerumus. Mungkin itu adalah kain berharga pasar loak. Namun  kujamin masih layak dipakai dan dipertahankan sisa-sisa permukaan sucinya.

"Ah Mbak... Bagaimana selaput merah ini bisa aku pertahankan. Jikalau banyak sekali para pemilik tembak menawarkan sejuta rayuan. Aku tergoda Mbak. Apa dayaku? Aku menukarkan selaput ini untuk para penembak jitu di luar sana. Yah, salah satu rayuan mereka mengenai hatiku" jelasnya dengan suara bergemuruh.

"Ah lalu sesudah itu aku hanya seperti menjadi seekor kerbau yang dicocok hidungnya. Manut saja. Dan saat itulah penembak jitu mulai berburu buruan yang baru. Tentu dengan menebar sejuta rayuannya" jelasnya lagi.

Sudah jelas sekali. Semakin jelas dan terang inti ceritanya.
"Sudah Dik. lalu bagaimana kelanjutannya?"
"Yaaa saya tentu merasa bodoh. Eh sudah bodoh malah datang lagi penembak yang lain; wah kali ini lebih jitu dari sebelumnya" jelasnya.
"Rayuannya terdengar nyata hingga melesakkanku dalam sebuah keindahan. Aku dengan ikhlas untuk kedua kalinya menjadi tempat perburuannya" lanjutnya.

Sesekali ia mendesah panjang, matanya yang tadi berair kini berangsur-angsur kering dan berbinar. Namun kusam lagi binar mata itu.
"Ah, penembak itu. Sungguh aku benar-benar dibuat melayang. Namun apa yang terjadi selanjutnya? Sama seperti dulu, ia melemparkanku jauh seperti sampah yang terlempar ke tempat pembuangan sampah umum. Berbaur dengan para sampah yang lain," tuturnya.

Laki-laki itu berhasil mengotori. Ia tak mudah menerima. Namun, sudah menjadi bagian dari hidupnya. Mau tidak mau ia pun harus berdamai dengan takdir.

Selasa, 22 November 2016

Barangkali makna kehidupan

BARANGKALI MAKNA KEHIDUPAN

Tuhan tentu menciptakan manusia dengan beberapa tujuan atau alasan. Baik manusia itu terlahir akan menjadi manusia yang baik ataupun buruk. Terlepas manusia yang pada hakekatnya adalah ciptaan-Nya yang paling sempurna. Berakal dan berbudi, tidak seperti ciptaan-Nya yang lain.
Detik demi detik selalu dilewatkan begitu saja tanpa memperhitungkan berapa sisa waktu yang akan dilewati manusia. Mereka menghabiskan sisa waktu mereka untuk berfoya-foya, keindahan yang fana duniawi. Melupakan tujuan mulanya ia diciptakan oleh sang Khaliq. Menyepelekan balasan yang sejatinya kekal di alam Naar dan Jannah.

Aku juga begitu. Salah satu manusia yang tidak begitu kotor sekotor koruptor dan saksi palsu ataupun semurni dan sesuci bayi yang telanjang bulat baru dilahirkan. Luput memang. Bisa saja aku melakukan kesalahan dan beralibi bahwa aku khilaf! Lantas kenapa? Aku juga manusia. Toh mereka di luar sana banyak yang lebih melakukan dosa dari pada aku?

Namun suatu ketika Khaliq menyadarkanku akan sesuatu. Sesuatu yang sudah hampir aku pupuskan dari pikiran Karena penuh dengan rencana duniawi.
“Aku kurang enak badan bu. Bolehkah aku meminta teh hangat buatan ibu?” aku merengek manja kepada Ibu yang masih berkutat dengan laba rugi dagangan hari ini untuk dihitung.
“Nanti dulu. Aku masih ruwet dengan angka-angka ini. Suruhlah ayahmu atau adikmu untuk membuatkan teh. Kenapa selalu aku?” jawab Ibu santai tidak memalingkan wajahnya dari kalkulator.
“Ayolah...” aku tetap merajuk. Ibu menarik napas panjang. Sakit langgananku yang datang memang selalu membuatku lebih manja dari biasanya. Dan itu sedikit membuat Ibu kewalahan.

Ibu menyerah. Lantas ia masuk ke dapur dan beberapa menit selanjutnya terdengar dentingan gelas karena diaduk. Dan entah menit ke berapa ia kembali dengan membawa secangkir teh hangat lalu menyodorkan minuman itu kepadaku.
“Ini Segera habiskan kemudian minum obatmu” dengan cakap Ibu meraih kembali kalkulatornya.

Tak seperti ini biasanya. Sakitku semakin menjadi. Obat-obatan yang biasanya menjinakkan penyakitku, kini seolah-olah semakin memperburuk keadaanku.  Perutku melilit, bak diremas sekuat tenaga oleh tangan yang keras dan besar. Sungguh luar biasa nyeri. Hingga aku tidak bisa menggambarkannya dengan kata-kata. Membuat seisi rumah kerepotan untuk mengobatkanku kesana kemari.

Memang beberapa waktu yang lalu sudah sempat mereda. Namun anjuran dokter untukku agar aku tidak terlalu sering mengonsumsi mi instan tetap saja kuteruskan. Pecandu mi instan? Ya memang betul. Begitu kataku ketika dokter menanyaiku tentang mi instan. Alhasil melanggar anjuran dokter, perutku semakin terasa memburuk.
“Sudah Ayah dan Ibu bilang, untuk sementara waktu berhentilah memakan mi instan. Kau ini ingin menyusahkan kami?” Ayah tidak bisa menutupi rautnya yang jengkel kepadaku. Masih sakit pun aku sempat membantah kata-kata ayah. “Ayah ini cerewet”.

Ayah sudah semakin kesal, dan tidak mau tau dengan kondisiku. Sementara perutku terus menjadi, Ibu terus berusaha menanyai tetangga-tetangga rumah tentang obat tradisional yang mujarab mengobati sakit perut. Aku pun sempat menyesal telah membantah Ayah dengan berani yang berakibat kepada Ibu yang semakin kepayahan mengobatiku. Dan perutku sendiri yang sudah sangat memburuk kondisinya.

Sudah kubilang bukan? Aku hanya manusia biasa. Terkadang pun atau bahkan seringkali aku lupa aka dosa sehingga dengan enaknya melakukan kesalahan. Seperti membentak orang lain tanpa memikirkan resiko atau dosa. Begitukan sifat manusia? Ini hanya gambaran kecil yang pernah kualami agar dapat diambil hikmah. Namun ceritaku tak cukup sampai di sini.

Ibu kembali ke rumah dengan wajah yang sepertinya sedikit lega karena adanya kabar baik. Dengan semangat ia memberitahuku tentang obat tradisional itu. Ia memberitahuku perihal ‘JAMU’. Apa yang ada dibenakku tentang jamu ingin dengan cepat menyergah Ibu agar tidak benar-benar memberiku minuman tradisioal mengerikan itu sebagai obat perutku.
“Ibu serius?” tanyaku tentu saja sangat ragu.
“Apa lagi yang harus kulakukan? Kau ingin terus begini? Kita sudah ke dokter tapi tidak ada perubahan bukan? Jadi ini satu-satunya jalan. Jangan banyak membantah!” jawab Ibu panjang lebar.

Aku belajar mengambil hikmah untuk tidak membantah perkataan orang tua. Namun sejujurnya aku setengah hati sekali menerima saran Ibu agar aku minum jamu temulawak. Aku lantas mengomel dalam hati berdebat dengan nuarni memperdebatkan Ibu dan jamunya. Tapi keinginanku untuk sembuh mendorongku untuk harus benar-benar bisa menerima minuman itu.

Bukan sudah ku bilang? Aku manusia biasa yang tak luput juga dari kesalahan. Aku masih senang mengumpat, memendam unek-unek tak enak kepada orang lain. Bukankah begitu sifat manusia? Namun ini bukan inti dari ceritaku.

Ibu menuangkan minuman berbau aneh dan berwarna keoranyean pada gelas yang ada di tanganku. Ingin mual karena mencium aromanya yang masih asing bagi hidungku. Setelah itu pelan tapi pasti aku mulai meminumnya. Terasa sekali minuman itu melewati kerongkonganku dan terasa pahit. Rasa pahitnya memaksaku untuk segera menenggak habis ta tersisa. Agar lidahku tidak lama-lama merasakan kepahitan.

Selang beberapa jam selepas aku meminum jamu temulawak, perlahan perutku sudah mulai tidak terasa nyeri. Mula-mula berkurang perihnya hingga tinggal kembung, lantas hilang sama sekali rasa sakit itu. Keringat dinginku bercucuran. Namun Ibu tampak lega dengan kondisiku yang sudah jauh lebih baik dari pada sebelumnya. Aku sudah sembuh!

Sudah menemukan inti atau akhir ceritaku? Atau belum sama sekali? Biar kujelaskan. Aku membenci jamu. Namun dari jamulah Allah menyampaikan pesannya selain di dalam wahyu-Nya.
Jamu yang kuminum menyiratkan pesan. Jamu itu ibarat sebuah kehidupan yang diberikan oleh Tuhan. Dan si peminum jamu adalah aktor kehidupan. Rasa pahit yang ditawarkan ketika kau meminum jamu adalah diibaratkan seperti permasalahan pada kehidupanmu yang kau jalani terasa menyakitkan. Setelah kau berhasil meminum jamu itu hingga habis dan tak tersisa yang berarti kau melewati ujian hidupmu dengan ikhlas dan tawakkal, kau akan sembuh. Yang berarti kau menemukan kembali jati dirimu. Kau kembali fitri karena keikhlasan menjalani kehidupan yang sejatinya penuh dengan tantangan dan ujian dari Tuhan.

Jamu itu tidak pahit. Ketika kau meminumnya dengan sepenuh hati dan memikirkan manfaat dari jamu itu sendiri. Seperti ujian Tuhan yang tidak akan berat ketika kau menjalani ujian itu dengan rasa ikhlas dan mencari hikmah atas ujian yang diberikan-Nya.
Sekarang sudah jelas bukan maksud dari cerita abstrak ini?
SELESAI

Sabtu, 19 November 2016

Moccacino



MOCCACINO

Hiruk pikuk kota Jakarta terlihat jelas dari sini. Tapi tidak denganku. Seorang mahasiswi di salah satu universitas swasta di Jakarta. Saat semua orang sibuk dengan urusannya masing-masing aku malah disini. Duduk manis dengan secangkir matcha di kafe langgananku. Menikmati matcha di balik tirai kafe dan sesekali menghirup aroma segar hujan yang beberapa saat lalu turun. Mengingatkanku dengan seseorang dan juga suasana kafe langganan kami semakin membuat perasaanku tak menentu.
***
Semua ini berawal ketika aku, dan keluargaku maksudnya, mengalami sedikit masalah. Kami dihadapkan pada masalah yang berkaitan dengan SARA. Awalnya aku dan keluargaku tinggal di Kota Paris mengikuti ayahku yang memiliki bisnis disana. Tinggal disana sangat menyenangkan. Tetapi setelah beberapa bulan berjalan kami mulai ditimpa masalah.
Aku dan keluargaku adalah salah satu keluarga dari sekian banyak keluarga yang menganut agama Islam. Ya, kami muslim. Aku kira diskriminasi terhadap agama Islam di kota secanggih dan semoderen Paris telah lenyap dari dulu. Tetapi perkiraanku salah. Setelah sempat menikmati kehidupan di Paris selama beberapa bulan, ada salah satu tetangga kami yang jadi biang keladi. Sebut saja dia Mr.Collin. Orang itu berumur sekitar 30-an dan salah satu orang yang kurasa masih berpikiran kuno.
Kami sebagai umat muslim sudah tentu mengenakan pakaian yang sesuai dengan ajaran kami, tapi Mr.Collin menganggap ini semua adalah musibah dan ancaman baginya beserta keluarganya. Bodohnya, ia selalu menganggap kami adalah teroris. Apalagi dengan pakaian ibuku yang memakai jubah bercadar. Selama beberapa minggu ia terus mengusik kehidupan kami. Sampai-sampai ibu mulai depresi karena perlakuan gila Mr.Collin. Ayah yang tadinya keukeuh untuk tetap tinggal di Paris, akhirnya memutuskan memulangkan kami ke Jakarta.  Dan disinilah masalahku semakin menjadi.
Ibuku yang tadinya ‘baik-baik’ sekarang menjadi ‘tidak baik’. Seperti yang kukatakan tadi, ibuku depresi. Dan kali ini sasarannya adalah aku, putri semata wayangnya yang masih bisa dikatakan berstatus remaja. Ibu menjadi sangat selektif memilihkanku teman. Sejujurnya ini sangat bertentangan dengan kepribadianku yang cenderung agresif dalam memilih teman. Dan karena sikap ibuku seperti itu, aku jadi tidak mempunyai teman tetap. Kebanyakan dari mereka beralasan bahwa ibuku kurang ramah saat mereka sedang berada di rumahku. Hal ini dapat membuatku gila lama kelamaan. Sampai akhirnya aku mengenal sesorang yang bernama Guruh.
Mungkin kalian akan mengira bahwa Guruh adalah cowok pribumi Jawa. Begitu juga denganku ketika pertama kali namanya digemakan. Dia adalah cowok bule yang tinggi sekali dengan kulit putih dan tak luput bintil-bintil cokelat di pipi. Bola matanya berwarna hijau safir. Guruh adalah mahasiswa baru yang berasal dari negara Perancis. Aku mulai mengenalnya ketika kami berada dalam satu ukm yang sama.
“Sial! Ban motorku bocor” aku menggerutu ketika mendapati ban depan motorku yang kempis.
“Hey, what’s going on? Apakah kamu mempunyai masalah?” dan Guruh datang lalu bertanya padaku dengan bahasa Indonesia yang masih kental dengan aksen Britishnya.
“Ini nih banku bocor. So, i can’t back to home”
“Leave your motorcycle here. Nanti akan kuteleponkan orang bengkel langgananku untuk memperbaiki. Dan  aku bisa mengantarkanmu pulang”.
Baik. Respon pertamaku adalah senang karena aku bisa secepatnya pulang tetapi respon keduaku adalah takut, karena jika ibu sampai tau aku dibonceng cowok pasti akan berujung masalah besar. Sedangkan aku harus secepatnya pulang karena masih ada tugas kuliah yang harus kuselesaikan. Aku ingin menolak bantuannya tapi aku merasa aku sangat membutuhkan bantuannya.
“Bagaiman Hening?” ia menanyaiku sekali lagi dan merusak lamunanku. Secara spontan aku menganggukan kepala.
“Okay. Follow me” tukasnya. Aku hanya bisa mengekor di belakangnya sambil berdoa semoga semua akan baik-baik saja.
***
 Aku sedikit lega karena aku berhasil masuk ke dalam rumah tanpa ibu tau kalau aku tadi diantar pulang oleh Guruh.
“Hmmm” Ya Allah dehaman ibu terasa bak petir di musim kemarau. Setengah mati mengejutkanku.
“Tadi pulang sama siapa Lea?”
“Nnngg.. Hening pppulang samma” ibu berhasil membuatku menjadi gagap seketika.
“Ibu tau kamu pulang sama cowok” suara ibu meninggi.
“Sudah berapa kali ibu bilang? Jangan bergaul sembarangan! Apalagi sama cowok. Kalian bukan muhrimnya”.
Seharusnya sudah kuduga ini akan terjadi. Dan seharusnya aku menolak tawaran Guruh. Ibu sangat marah kepadaku. Akibat insiden itu, aku dan ibu jadi saling diam. Mata ibu menyiratkan kekecewaan dan kemarahan besar. Aku hanya bisa diam menunggu ibu memulai percakapan.
Ponselku berdering memecah keheningan rumah. Kulirik layar ponselku yang sedang berkedip-kedip. Layar itu menampilkan nomor yang belum kusimpan di ponsel.
“Assalamualaikum dengan siapa ini?”
“Selamat pagi. Aku Guruh” jantungku berdegup.
“Ada apa Guruh? Ada yang ingin kamu bicarakan? Oh ya, darimana kamu mendapat nomor teleponku?”
“Stay calm Hening. Let me answer your questions one by one hahaha” terdengar tawanya yang setengah meledekku.
“Ya baik. Baiklah”
“Seminggu lagi akan ukm kita akan megadakan seminar bukan? Dan kita adalah panitia seminarnya. Apakah kamu sudah menyusun jadwal acara seminar? Kalau belum, can we finished all together tomorrow? Karena aku juga bingung dengan susunan anggaran untuk seminar”. Bingo! Dia bertanya lebih panjang dan mbulet dariku.
Kalau aku menerima jelas masalahku dengan ibu akan membesar. Tetapi ini untuk kesuksesan acara seminar ukm ku. Dan aku selaku panitia juga harus ikut andil dalam penyuksesan acara itu. Ya Allah berilah aku petunjuk. Baiklah, mungkin resiko untuk ketahuan ibu akan kecil. Karena aku mengerjakan di kampus.
“Ya, baik. Tapi jangan pulang terlalu malam ya? Besok aku pagi pukul 7 ada kuliah, siangnya pukul 12 aku ada kuliah kemudian pukul 3 sore aku juga ada kuliah” jelasku.
“Tenang saja nona. Tidak akan lama. Tapi aku juga tidak bisa janji ya”
“Terserah apa katamu”
“Ok begitu saja. Oh ya soal darimana aku tau nomor ponselmu, Rengga give me your number when i ask him”.
***
Ini di luar dugaan. Guruh mengajakku ke sebuah kafe untuk mengerjakan tugas kami. Awalnya aku sudah menolak habis-habisan. Tapi entah senjata apa yang ia gunakan, sehingga aku bisa menerima ajakannya. Dasar bule gila.
Sesampainya di kafe, alih-alih mengerjakan tugas kami malah bercakap-cakap dengan Guruh yang asik menikmati matcha pesanannya. Ya, kami lupa dengan tujuan awal kami datang kesini. Bodohnya diriku.
“Kamu tau? Awal aku datang ke Jakarta sempat terkejut dengan macetnya. Sampah-sampah berserakan. Pokoknya random city banget Jakarta. Tapi lama kelamaan aku sudah terbiasa. Bagaimana denganmu yang asli penduduk disini?” katanya panjang lebar sambil sesekali meminum secangkir matchanya.
“Sebenarnya bukan asli juga sih. Aku lahir di Yogyakarta, tapi ayahku mempbangun rumah di Jakarta, kemudian tahun lalu aku sempat tinggal di Kota Paris”
“Wow! U are alive everywhere hahaha. Okey tell me again” candanya yang kurasa tidak lucu.
“Karena beberapa insiden tidak mengenakkan keluarga kami, akhirnya aku dan ibuku kembali ke Jakarta” jelasku sambil mulai mencomot sedikit demi sedit bagian dari red velvet muffin pesananku. “Insiden apakah itu?” dan kurasa bule ini memiliki rasa ingin tahu yang tinggi.
“Maaf aku tidak bisa mengatakan lebih dari ini. May be if i tell u about this u’ll hate me. Kamu akan anggap aku ini rasis atau apalah” terangku. Seketika mimik muka Guruh menjadi serius.
“Ah baiklah. Everyone have some privacy” dan ia kembali menikmati matchanya untuk mencairkan suasana.
“Entah harus berapa kali ibu menasehatimu. Kamu tetap melakukan kesalahan yang sama Hening” tukas ibu lantang-lantang ketika aku berada di rumah dan seolah-olah tau darimana aku pergi. Aku hanya bisa mendengar cacian ibu dan sesekali mengusap mataku yang telah berair.
“Jauhi dia atau jangan pernah panggil aku ibu” Kali ini ibu menunjukan kemarahan yang besar.
Dan sejak percakapan di kafe itu, kami semakin intensif. Dari yang sekedar mengerjakan tugas ukm atau tugas kuliah bersama dan mengobrol di kafe seperti biasanya. Guruh juga semakin rutin memperhatikanku di kampus. Setiap hari ia selalu berusaha menghubungiku. Meskipun aku sudah mengatakan kepadanya bahwa ibu akan marah jika tau soal ini. ‘I don’t care. Don’t u miss me too?’ jawabannya selalu sama.
Ketika waktu melemparku pada insiden di Paris. Aku teringat akan sesuatu. Guruh adalah warga negara Perancis asli. Seketika itu juga aku berpikiran bahwa Guruh akan memperlakukanku hal yang sama seperti yang dilakukan oleh Mr.Collin beberapa waktu silam. Aku juga mulai sadar bahwa Guruh beragama Kristen. Terlebih kejadian tadi malam ibu terlihat benar-benar marah kepadaku. Ya Allah, kadang aku berpikir mengapa aku dipertemukan dengan seseorang yang saat ini kutaruh perasaanku padanya tetapi pada akhirnya kami terpisah jua karena berbeda keyakinan.
Aku benar-benar memutuskan untuk mundur perlahan dari kehidupan Guruh. Setiap menatap manik matanya aku merasa aku tidak mampu. Maka kualihkan pandanganku seketika. Hal itu membuat Guru bingung sekaligus sedikit panik. Mungkin ia merasa bahwa ia telah melakukan kesalahan kepadaku. Tapi justru inilah kesalahanku. Membiarkan perasaan ini datang dan tumbuh untuknya.
“Hening apakah aku sudah melakukan kesalahan kepadamu?” tanyanya sembari mearih pergelangan tanganku. Ibu tidak mengajarkan ini padaku. Kemudian kutepiskan tangannya.
“Wait me! I’m sorry that i have some mistake to u. May be it just accident. Maafkan aku. Jangan bertingkah seperti ini” kali ini ia menggenggam pergelangan tanganku lebih erat. Dan aku tau, ia bertubuh jauh lebih besar dari tubuhku. Aku jadi sedikit kewalahan karena cengkramannya.
“Aku akan katakan tapi lepaskan dulu tanganku” kataku tegas.
“Maaf tidak bisa. Kita harus bicarakan ini di kafe. Let’s follow me” Guruh menggandengku dan ia melangkahkan kakinya lebar-lebar. Membuatku harus sedikit berlari untuk menyamakan langkahnya.
Mobil putih Guruh berhasil terparkir di pelataran parkir kafe. Masih dengan tangan yang memegang setir mobil, ia mengamatiku yang masih asik memandang ke luar jendela. Asik dengan pikiranku sendiri tentunya. Dari sudut mata dapat kulihat jika tangannya hendak menyentuh jilbabku namun ia urungkan. Guruh pun melepas safety beltnya kemudian turun dan membukakan pintu mobil untukku.
“Miss saya pesan one cup hot matcha. Hening apa yang ingin kamu pesan?” ia bertanya padaku setelah mengatakan pesanannya kepada serang waitress.
“Terserah kamu saja. Aku sedang tidak ingin apa-apa” dan aku berusaha sekuat tenaga untuk menahan air mataku agar tidak tumpah di depan Guruh. Lalu aku mendengar desah nafas Guruh.
“One cup ice moccacino with red velvet muffin” bahkan dia sudah hafal dengan menu favoritku di kafe ini. “Aku tahu kamu akan memesan menu ini jika kamu sedang menginginkan makanan” ia menorehkan senyumnya kepadaku. Aku terjebak dengan perasaan dan pikiranku sendiri.
Dan benteng pertahananku jebol. Sebulir air mata jatuh menghiasi pipiku. Sesegera mungkin aku mengahpusnya. Namun terlambat. Guruh melihat bulir air mata itu dan ia terlihat cemas. Ia menghapus air mataku dengan salah satu jari telunjuknya.
“Katakan semuanya padaku mengapa akhir-akhir ini kamu seperti menghindariku?” ia bertanya tepat pada poin permasalahan. Baik mungkin ini sudah waktunya aku menceritakan semua padanya.
Sepersekian detik badan tegapnya mendekapku dan membuat tangisku semakin pecah. Guruh membelai kepalaku membuat aku merasa aman dan tenang berada di pelukannya. Sesekali ia melepas peluknya dan menatap mataku dalam-dalam.
“Kamu tahu? Ternyata sebenarnya kita telah merasakan perasaan yang sama. Aku juga berpikir bahwa perasaanku akan terhalang oleh keyakinan kita” tuturnya yang semakin membuatku terisak. Oke, aku tidak peduli dengan pandangan-pandangan ingin tau para pengunjung di kafe ini.
“Seandainya semua ini harus diperjuangkan, aku akan memperjuangkan semampuku. Trust me” lanjutnya kemudian memelukku lagi.
“Kamu yakin akan malnjutkan perasaan ini?” tanyaku sangat tidak yakin dengan pernyataannya barusaja.
“Apakah selama ini aku pernah melakukan sesuatu yang meleset dari omonganku?”
“Ya memang benar kamu tidak pernah melakukan sesuatu yang meleset dari omonganmu. Tapi sungguh ini berbeda persoalan dan persoalan ini akan melibatkan Tuhan, keluarga kita. Apa aku harus menjadi umat Kristen agar kita selalu bersama?” sahutku sudah berputus asa dan tak terkendali. Dan lagi-lagi Guruh menatapku dengan lensa matanya yang kehijauan safir.
“Jangan. Pertahankan agamamu. Karena aku tahu, kebiasaan agamamu yang selama ini menjadi rutinitasmu akan menuntun manusia untuk menjadi lebih baik. Kali ini aku akan membuktikan bahwa aku benar mencintaimu, dengan cara aku akan menjadi pria muallaf” kalimatnya terdengar pasti dan paten saat ia mengakhiri menjadi seorang Muallaf.
“Katakan pada ibumu bahwa aku akan menjadi muallaf dan aku akan segera melamarmu” lanjutnya. Aku benar-benar terharu.
“Tapi bagaimana dengan keluargamu?”
“Mungkin awalnya mereka tidak bisa menerima. Tapi percayalah mereka akan menyerahkan jalan hidupku di tanganku sendiri”.
***
Cowok bule itu berhasil melantunkan tiga kalimat syahadat di depanku, ibuku dan para saksi tentunya. Kini ia sudah menjadi umat muslim. Sama sepertiku dan ibuku. Ibu tersenyum dan menangis haru, akupun begitu.
Guruh mencium punggung tangan ibu. Tampak sekali raut kebahagiaannya. Namun sebersit rasa bersalah sekilas terlihat di matanya. Mungkin ia bingung apa yang harus ia katakan kepada keluarganya. Entah perasaan apa yang seharusnya saat ini aku rasakan. Bercampur aduk.
“Aku sudah mengatakan semuanya pada keluargaku, mereka ingin aku kembali untuk sementara waktu. They needed time to anything about us. Aku berjanji setelah semuanya selesai aku akan menikahimu. I promise u” kata-kata itu meluncur begitu saja. Mau tidak mau aku harus terpisah sementara dengannya.
Senyuman itu, sorot mata itu. Bola mata hijau safir itu. Aku melihat semuanya hanya dalam hitungan menit, sebelum akhirnya si empu benar-benar lenyap dari pandanganku. Aku telah memberinya sebuah Al-Qur’an agar ia pelan-pelan dapat mempelajari saat ia berada di negara kelahirannya.
***
Aku kembali dalam waktu yang berbeda dengan keadaan yang berbeda. Ponselku berdering pendek menandakan adanya sebuah pesan singkat masuk. Sebuah nomor yang tidak kukenal. Lantas kubuka pesan itu.
From: 041500321177
Menolehlah ke belakang

Aku memutar kepalaku. Pemilik senyuman indah itu berada di depanku. Masih dengan lensa mata hijau safirnya. Tangan kanannya melambai ke arahku, dan saat ini Allah telah mengindahkan skenario hidupku. Ia datang untuk menepati janjinya dua tahun silam. Dan kini aku mulai mengerti bahwa seberat apapun permasalahanku, seberapa campur aduknya, aku tidak perlu meninggalkan keyakinanku. Karena aku akan tetap menjadi seorang muslim dan kuyakin Allah akan memberikan jalan keluar bagiku.  

SELESAI

Jumat, 11 November 2016

Kereta kencana

Aku..
Dengan sejengkal tanah aku berdiri
Dengan semilir angin aku bernafas
Aku..
Bunyi kaki kuda menggema di telingaku
Sayup-sayup namun semakin terdengar jelas
Keretaku datang
Aku..
Keretaku mengantarkanku dari tanah padi ke tanah gersang
Keretaku melaju kencang tanpa terasa
Keretaku, aku...
Aku..
Ketika tak lagi roda bergulir
Ketika itu juga waktu tak lagi berdetik
Aku sudah sampai di tujuan
Dengan keretaku..
Aku..
Si empu rumah mempersilahkan
Kaki berayun ringan tanpa beban
Mata melirik bebas ke segala penjuru
Keretaku hilang..
Keretaku, aku..

Kamis, 27 Oktober 2016

Mata milik bidadariku

Sendu ia menatap langit senja
Rindu terpendam lama menanti hari yang sudah dinanti-nanti
Sendu ia merasakan kesedihan
Perih teriris tak berdarah
Sudah lama ia terisak, sudah lama ia menanti
Waktu terus bergulir
Rinai hujan membawa pergi sendunya hati
Mata itu, manik mata itu..
Tumpah ruah seluruh airnya. Air mata yang selalu ia tahan untuk menahan kerinduan.
Ini anakmu ibu.. anak yang datang jauh jauh untuk melihat manik matamu.
Sungguh indah mata milik bidadari ku

Minggu, 23 Oktober 2016

Ketika akulah bayanganmu

Sudut mataku menarik bayangan seseorang. Lalu memaksa manik mataku untuk selalu mengikuti. Ini sungguh menarik. Tuhan menciptakan sosok manusia yang kuanggap benar-benar sempurna.
Matanya menyiratkan keteduhan. Gesturnya menandakan kekokohan jiwa. Ah namun apa yang bisa kulakukan saat ini selain memandanginya dari kejauhan? 
Jam terus berlari mengejar hari. Menit berusaha menyusul jam yang sudah jauh menyusul hari. Dan mereka yang telah berlari jauh mempertemukanku dengannya di waktu dan tempat yang sama. 
Mungkin indah bagiku. Aku dapat merasakan sejuk hatiku ketika ia menyunggingkan senyumnya. Mawar memang indah namun tetap saja ia berduri. Perasaanku mengembang namun tak kusadari perasaan itu justru yang menyakitiku. 
Bak pungguk merindukan purnama. Aku tidak dapat meraihnya. Aku tidak dapat menggapainya. Namun aku hanya bisa menatapnya dari kejauhan, lagi. Semoga suatu saat ketika aku benar ditakdirkan untuknya Tuhan mendengar semua doa yang kupanjatkan selama ini.
Aku mengamatimu dari kejauhan, mengikuti langkahmu selalu. Aku menjadi bayangmu selalu..