MOCCACINO
Hiruk pikuk kota
Jakarta terlihat jelas dari sini. Tapi tidak denganku. Seorang mahasiswi di
salah satu universitas swasta di Jakarta. Saat semua orang sibuk dengan
urusannya masing-masing aku malah disini. Duduk manis dengan secangkir matcha di kafe langgananku. Menikmati matcha di balik tirai kafe dan sesekali
menghirup aroma segar hujan yang beberapa saat lalu turun. Mengingatkanku
dengan seseorang dan juga suasana kafe langganan kami semakin membuat
perasaanku tak menentu.
***
Semua ini berawal
ketika aku, dan keluargaku maksudnya, mengalami sedikit masalah. Kami
dihadapkan pada masalah yang berkaitan dengan SARA. Awalnya aku dan keluargaku
tinggal di Kota Paris mengikuti ayahku yang memiliki bisnis disana. Tinggal
disana sangat menyenangkan. Tetapi setelah beberapa bulan berjalan kami mulai
ditimpa masalah.
Aku dan
keluargaku adalah salah satu keluarga dari sekian banyak keluarga yang menganut
agama Islam. Ya, kami muslim. Aku kira diskriminasi terhadap agama Islam di
kota secanggih dan semoderen Paris telah lenyap dari dulu. Tetapi perkiraanku
salah. Setelah sempat menikmati kehidupan di Paris selama beberapa bulan, ada
salah satu tetangga kami yang jadi biang keladi. Sebut saja dia Mr.Collin.
Orang itu berumur sekitar 30-an dan salah satu orang yang kurasa masih
berpikiran kuno.
Kami sebagai
umat muslim sudah tentu mengenakan pakaian yang sesuai dengan ajaran kami, tapi
Mr.Collin menganggap ini semua adalah musibah dan ancaman baginya beserta
keluarganya. Bodohnya, ia selalu menganggap kami adalah teroris. Apalagi dengan
pakaian ibuku yang memakai jubah bercadar. Selama beberapa minggu ia terus
mengusik kehidupan kami. Sampai-sampai ibu mulai depresi karena perlakuan gila Mr.Collin.
Ayah yang tadinya keukeuh untuk tetap tinggal di Paris, akhirnya memutuskan
memulangkan kami ke Jakarta. Dan
disinilah masalahku semakin menjadi.
Ibuku yang
tadinya ‘baik-baik’ sekarang menjadi ‘tidak baik’. Seperti yang kukatakan tadi,
ibuku depresi. Dan kali ini sasarannya adalah aku, putri semata wayangnya yang
masih bisa dikatakan berstatus remaja. Ibu menjadi sangat selektif memilihkanku
teman. Sejujurnya ini sangat bertentangan dengan kepribadianku yang cenderung
agresif dalam memilih teman. Dan karena sikap ibuku seperti itu, aku jadi tidak
mempunyai teman tetap. Kebanyakan dari mereka beralasan bahwa ibuku kurang
ramah saat mereka sedang berada di rumahku. Hal ini dapat membuatku gila lama
kelamaan. Sampai akhirnya aku mengenal sesorang yang bernama Guruh.
Mungkin kalian
akan mengira bahwa Guruh adalah cowok pribumi Jawa. Begitu juga denganku ketika
pertama kali namanya digemakan. Dia adalah cowok bule yang tinggi sekali dengan
kulit putih dan tak luput bintil-bintil cokelat di pipi. Bola matanya berwarna
hijau safir. Guruh adalah mahasiswa baru yang berasal dari negara Perancis. Aku
mulai mengenalnya ketika kami berada dalam satu ukm yang sama.
“Sial! Ban
motorku bocor” aku menggerutu ketika mendapati ban depan motorku yang kempis.
“Hey, what’s
going on? Apakah kamu mempunyai masalah?” dan Guruh datang lalu bertanya padaku
dengan bahasa Indonesia yang masih kental dengan aksen Britishnya.
“Ini nih banku
bocor. So, i can’t back to home”
“Leave your
motorcycle here. Nanti akan kuteleponkan orang bengkel langgananku untuk
memperbaiki. Dan aku bisa mengantarkanmu
pulang”.
Baik. Respon
pertamaku adalah senang karena aku bisa secepatnya pulang tetapi respon keduaku
adalah takut, karena jika ibu sampai tau aku dibonceng cowok pasti akan
berujung masalah besar. Sedangkan aku harus secepatnya pulang karena masih ada
tugas kuliah yang harus kuselesaikan. Aku ingin menolak bantuannya tapi aku
merasa aku sangat membutuhkan bantuannya.
“Bagaiman Hening?”
ia menanyaiku sekali lagi dan merusak lamunanku. Secara spontan aku
menganggukan kepala.
“Okay. Follow
me” tukasnya. Aku hanya bisa mengekor di belakangnya sambil berdoa semoga semua
akan baik-baik saja.
***
Aku sedikit lega karena aku berhasil masuk ke
dalam rumah tanpa ibu tau kalau aku tadi diantar pulang oleh Guruh.
“Hmmm” Ya Allah
dehaman ibu terasa bak petir di musim kemarau. Setengah mati mengejutkanku.
“Tadi pulang
sama siapa Lea?”
“Nnngg.. Hening pppulang
samma” ibu berhasil membuatku menjadi gagap seketika.
“Ibu tau kamu
pulang sama cowok” suara ibu meninggi.
“Sudah berapa
kali ibu bilang? Jangan bergaul sembarangan! Apalagi sama cowok. Kalian bukan
muhrimnya”.
Seharusnya sudah
kuduga ini akan terjadi. Dan seharusnya aku menolak tawaran Guruh. Ibu sangat
marah kepadaku. Akibat insiden itu, aku dan ibu jadi saling diam. Mata ibu
menyiratkan kekecewaan dan kemarahan besar. Aku hanya bisa diam menunggu ibu
memulai percakapan.
Ponselku
berdering memecah keheningan rumah. Kulirik layar ponselku yang sedang
berkedip-kedip. Layar itu menampilkan nomor yang belum kusimpan di ponsel.
“Assalamualaikum
dengan siapa ini?”
“Selamat pagi.
Aku Guruh” jantungku berdegup.
“Ada apa Guruh?
Ada yang ingin kamu bicarakan? Oh ya, darimana kamu mendapat nomor teleponku?”
“Stay calm
Hening. Let me answer your questions one by one hahaha” terdengar tawanya yang
setengah meledekku.
“Ya baik.
Baiklah”
“Seminggu lagi
akan ukm kita akan megadakan seminar bukan? Dan kita adalah panitia seminarnya.
Apakah kamu sudah menyusun jadwal acara seminar? Kalau belum, can we finished
all together tomorrow? Karena aku juga bingung dengan susunan anggaran untuk
seminar”. Bingo! Dia bertanya lebih panjang dan mbulet dariku.
Kalau aku
menerima jelas masalahku dengan ibu akan membesar. Tetapi ini untuk kesuksesan
acara seminar ukm ku. Dan aku selaku panitia juga harus ikut andil dalam
penyuksesan acara itu. Ya Allah berilah aku petunjuk. Baiklah, mungkin resiko
untuk ketahuan ibu akan kecil. Karena aku mengerjakan di kampus.
“Ya, baik. Tapi
jangan pulang terlalu malam ya? Besok aku pagi pukul 7 ada kuliah, siangnya
pukul 12 aku ada kuliah kemudian pukul 3 sore aku juga ada kuliah” jelasku.
“Tenang saja nona.
Tidak akan lama. Tapi aku juga tidak bisa janji ya”
“Terserah apa
katamu”
“Ok begitu saja.
Oh ya soal darimana aku tau nomor ponselmu, Rengga give me your number when i
ask him”.
***
Ini di luar
dugaan. Guruh mengajakku ke sebuah kafe untuk mengerjakan tugas kami. Awalnya
aku sudah menolak habis-habisan. Tapi entah senjata apa yang ia gunakan,
sehingga aku bisa menerima ajakannya. Dasar bule gila.
Sesampainya di
kafe, alih-alih mengerjakan tugas kami malah bercakap-cakap dengan Guruh yang
asik menikmati matcha pesanannya. Ya,
kami lupa dengan tujuan awal kami datang kesini. Bodohnya diriku.
“Kamu tau? Awal
aku datang ke Jakarta sempat terkejut dengan macetnya. Sampah-sampah
berserakan. Pokoknya random city banget Jakarta. Tapi lama kelamaan aku sudah
terbiasa. Bagaimana denganmu yang asli penduduk disini?” katanya panjang lebar
sambil sesekali meminum secangkir matchanya.
“Sebenarnya
bukan asli juga sih. Aku lahir di Yogyakarta, tapi ayahku mempbangun rumah di
Jakarta, kemudian tahun lalu aku sempat tinggal di Kota Paris”
“Wow! U are
alive everywhere hahaha. Okey tell me again” candanya yang kurasa tidak lucu.
“Karena beberapa
insiden tidak mengenakkan keluarga kami, akhirnya aku dan ibuku kembali ke
Jakarta” jelasku sambil mulai mencomot sedikit demi sedit bagian dari red
velvet muffin pesananku. “Insiden apakah itu?” dan kurasa bule ini memiliki
rasa ingin tahu yang tinggi.
“Maaf aku tidak
bisa mengatakan lebih dari ini. May be if i tell u about this u’ll hate me.
Kamu akan anggap aku ini rasis atau apalah” terangku. Seketika mimik muka Guruh
menjadi serius.
“Ah baiklah.
Everyone have some privacy” dan ia kembali menikmati matchanya untuk mencairkan
suasana.
“Entah harus
berapa kali ibu menasehatimu. Kamu tetap melakukan kesalahan yang sama Hening”
tukas ibu lantang-lantang ketika aku berada di rumah dan seolah-olah tau
darimana aku pergi. Aku hanya bisa mendengar cacian ibu dan sesekali mengusap
mataku yang telah berair.
“Jauhi dia atau
jangan pernah panggil aku ibu” Kali ini ibu menunjukan kemarahan yang besar.
Dan sejak
percakapan di kafe itu, kami semakin intensif. Dari yang sekedar mengerjakan
tugas ukm atau tugas kuliah bersama dan mengobrol di kafe seperti biasanya.
Guruh juga semakin rutin memperhatikanku di kampus. Setiap hari ia selalu
berusaha menghubungiku. Meskipun aku sudah mengatakan kepadanya bahwa ibu akan
marah jika tau soal ini. ‘I don’t care. Don’t u miss me too?’ jawabannya selalu
sama.
Ketika waktu
melemparku pada insiden di Paris. Aku teringat akan sesuatu. Guruh adalah warga
negara Perancis asli. Seketika itu juga aku berpikiran bahwa Guruh akan
memperlakukanku hal yang sama seperti yang dilakukan oleh Mr.Collin beberapa
waktu silam. Aku juga mulai sadar bahwa Guruh beragama Kristen. Terlebih
kejadian tadi malam ibu terlihat benar-benar marah kepadaku. Ya Allah, kadang
aku berpikir mengapa aku dipertemukan dengan seseorang yang saat ini kutaruh
perasaanku padanya tetapi pada akhirnya kami terpisah jua karena berbeda
keyakinan.
Aku benar-benar
memutuskan untuk mundur perlahan dari kehidupan Guruh. Setiap menatap manik
matanya aku merasa aku tidak mampu. Maka kualihkan pandanganku seketika. Hal
itu membuat Guru bingung sekaligus sedikit panik. Mungkin ia merasa bahwa ia
telah melakukan kesalahan kepadaku. Tapi justru inilah kesalahanku. Membiarkan
perasaan ini datang dan tumbuh untuknya.
“Hening apakah
aku sudah melakukan kesalahan kepadamu?” tanyanya sembari mearih pergelangan
tanganku. Ibu tidak mengajarkan ini padaku. Kemudian kutepiskan tangannya.
“Wait me! I’m
sorry that i have some mistake to u. May be it just accident. Maafkan aku.
Jangan bertingkah seperti ini” kali ini ia menggenggam pergelangan tanganku
lebih erat. Dan aku tau, ia bertubuh jauh lebih besar dari tubuhku. Aku jadi
sedikit kewalahan karena cengkramannya.
“Aku akan
katakan tapi lepaskan dulu tanganku” kataku tegas.
“Maaf tidak
bisa. Kita harus bicarakan ini di kafe. Let’s follow me” Guruh menggandengku
dan ia melangkahkan kakinya lebar-lebar. Membuatku harus sedikit berlari untuk
menyamakan langkahnya.
Mobil putih
Guruh berhasil terparkir di pelataran parkir kafe. Masih dengan tangan yang
memegang setir mobil, ia mengamatiku yang masih asik memandang ke luar jendela.
Asik dengan pikiranku sendiri tentunya. Dari sudut mata dapat kulihat jika
tangannya hendak menyentuh jilbabku namun ia urungkan. Guruh pun melepas safety beltnya kemudian turun dan
membukakan pintu mobil untukku.
“Miss saya pesan
one cup hot matcha. Hening apa yang ingin kamu pesan?” ia bertanya padaku
setelah mengatakan pesanannya kepada serang waitress.
“Terserah kamu
saja. Aku sedang tidak ingin apa-apa” dan aku berusaha sekuat tenaga untuk
menahan air mataku agar tidak tumpah di depan Guruh. Lalu aku mendengar desah
nafas Guruh.
“One cup ice
moccacino with red velvet muffin” bahkan dia sudah hafal dengan menu favoritku
di kafe ini. “Aku tahu kamu akan memesan menu ini jika kamu sedang menginginkan
makanan” ia menorehkan senyumnya kepadaku. Aku terjebak dengan perasaan dan
pikiranku sendiri.
Dan benteng
pertahananku jebol. Sebulir air mata jatuh menghiasi pipiku. Sesegera mungkin
aku mengahpusnya. Namun terlambat. Guruh melihat bulir air mata itu dan ia
terlihat cemas. Ia menghapus air mataku dengan salah satu jari telunjuknya.
“Katakan
semuanya padaku mengapa akhir-akhir ini kamu seperti menghindariku?” ia
bertanya tepat pada poin permasalahan. Baik mungkin ini sudah waktunya aku
menceritakan semua padanya.
Sepersekian detik
badan tegapnya mendekapku dan membuat tangisku semakin pecah. Guruh membelai
kepalaku membuat aku merasa aman dan tenang berada di pelukannya. Sesekali ia
melepas peluknya dan menatap mataku dalam-dalam.
“Kamu tahu?
Ternyata sebenarnya kita telah merasakan perasaan yang sama. Aku juga berpikir
bahwa perasaanku akan terhalang oleh keyakinan kita” tuturnya yang semakin
membuatku terisak. Oke, aku tidak peduli dengan pandangan-pandangan ingin tau
para pengunjung di kafe ini.
“Seandainya
semua ini harus diperjuangkan, aku akan memperjuangkan semampuku. Trust me”
lanjutnya kemudian memelukku lagi.
“Kamu yakin akan
malnjutkan perasaan ini?” tanyaku sangat tidak yakin dengan pernyataannya
barusaja.
“Apakah selama
ini aku pernah melakukan sesuatu yang meleset dari omonganku?”
“Ya memang benar
kamu tidak pernah melakukan sesuatu yang meleset dari omonganmu. Tapi sungguh
ini berbeda persoalan dan persoalan ini akan melibatkan Tuhan, keluarga kita.
Apa aku harus menjadi umat Kristen agar kita selalu bersama?” sahutku sudah
berputus asa dan tak terkendali. Dan lagi-lagi Guruh menatapku dengan lensa
matanya yang kehijauan safir.
“Jangan.
Pertahankan agamamu. Karena aku tahu, kebiasaan agamamu yang selama ini menjadi
rutinitasmu akan menuntun manusia untuk menjadi lebih baik. Kali ini aku akan
membuktikan bahwa aku benar mencintaimu, dengan cara aku akan menjadi pria
muallaf” kalimatnya terdengar pasti dan paten saat ia mengakhiri menjadi
seorang Muallaf.
“Katakan pada
ibumu bahwa aku akan menjadi muallaf dan aku akan segera melamarmu” lanjutnya.
Aku benar-benar terharu.
“Tapi bagaimana
dengan keluargamu?”
“Mungkin awalnya
mereka tidak bisa menerima. Tapi percayalah mereka akan menyerahkan jalan
hidupku di tanganku sendiri”.
***
Cowok bule itu
berhasil melantunkan tiga kalimat syahadat di depanku, ibuku dan para saksi
tentunya. Kini ia sudah menjadi umat muslim. Sama sepertiku dan ibuku. Ibu
tersenyum dan menangis haru, akupun begitu.
Guruh mencium
punggung tangan ibu. Tampak sekali raut kebahagiaannya. Namun sebersit rasa
bersalah sekilas terlihat di matanya. Mungkin ia bingung apa yang harus ia
katakan kepada keluarganya. Entah perasaan apa yang seharusnya saat ini aku
rasakan. Bercampur aduk.
“Aku sudah
mengatakan semuanya pada keluargaku, mereka ingin aku kembali untuk sementara
waktu. They needed time to anything about us. Aku berjanji setelah semuanya
selesai aku akan menikahimu. I promise u” kata-kata itu meluncur begitu saja.
Mau tidak mau aku harus terpisah sementara dengannya.
Senyuman itu,
sorot mata itu. Bola mata hijau safir itu. Aku melihat semuanya hanya dalam
hitungan menit, sebelum akhirnya si empu benar-benar lenyap dari pandanganku.
Aku telah memberinya sebuah Al-Qur’an agar ia pelan-pelan dapat mempelajari
saat ia berada di negara kelahirannya.
***
Aku kembali
dalam waktu yang berbeda dengan keadaan yang berbeda. Ponselku berdering pendek
menandakan adanya sebuah pesan singkat masuk. Sebuah nomor yang tidak kukenal.
Lantas kubuka pesan itu.
From: 041500321177
Menolehlah ke
belakang
Aku memutar
kepalaku. Pemilik senyuman indah itu berada di depanku. Masih dengan lensa mata
hijau safirnya. Tangan kanannya melambai ke arahku, dan saat ini Allah telah
mengindahkan skenario hidupku. Ia datang untuk menepati janjinya dua tahun
silam. Dan kini aku mulai mengerti bahwa seberat apapun permasalahanku,
seberapa campur aduknya, aku tidak perlu meninggalkan keyakinanku. Karena aku
akan tetap menjadi seorang muslim dan kuyakin Allah akan memberikan jalan
keluar bagiku.
SELESAI