Minggu, 23 Oktober 2016

Ketika akulah bayanganmu

Sudut mataku menarik bayangan seseorang. Lalu memaksa manik mataku untuk selalu mengikuti. Ini sungguh menarik. Tuhan menciptakan sosok manusia yang kuanggap benar-benar sempurna.
Matanya menyiratkan keteduhan. Gesturnya menandakan kekokohan jiwa. Ah namun apa yang bisa kulakukan saat ini selain memandanginya dari kejauhan? 
Jam terus berlari mengejar hari. Menit berusaha menyusul jam yang sudah jauh menyusul hari. Dan mereka yang telah berlari jauh mempertemukanku dengannya di waktu dan tempat yang sama. 
Mungkin indah bagiku. Aku dapat merasakan sejuk hatiku ketika ia menyunggingkan senyumnya. Mawar memang indah namun tetap saja ia berduri. Perasaanku mengembang namun tak kusadari perasaan itu justru yang menyakitiku. 
Bak pungguk merindukan purnama. Aku tidak dapat meraihnya. Aku tidak dapat menggapainya. Namun aku hanya bisa menatapnya dari kejauhan, lagi. Semoga suatu saat ketika aku benar ditakdirkan untuknya Tuhan mendengar semua doa yang kupanjatkan selama ini.
Aku mengamatimu dari kejauhan, mengikuti langkahmu selalu. Aku menjadi bayangmu selalu..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar