Selasa, 22 November 2016

Barangkali makna kehidupan

BARANGKALI MAKNA KEHIDUPAN

Tuhan tentu menciptakan manusia dengan beberapa tujuan atau alasan. Baik manusia itu terlahir akan menjadi manusia yang baik ataupun buruk. Terlepas manusia yang pada hakekatnya adalah ciptaan-Nya yang paling sempurna. Berakal dan berbudi, tidak seperti ciptaan-Nya yang lain.
Detik demi detik selalu dilewatkan begitu saja tanpa memperhitungkan berapa sisa waktu yang akan dilewati manusia. Mereka menghabiskan sisa waktu mereka untuk berfoya-foya, keindahan yang fana duniawi. Melupakan tujuan mulanya ia diciptakan oleh sang Khaliq. Menyepelekan balasan yang sejatinya kekal di alam Naar dan Jannah.

Aku juga begitu. Salah satu manusia yang tidak begitu kotor sekotor koruptor dan saksi palsu ataupun semurni dan sesuci bayi yang telanjang bulat baru dilahirkan. Luput memang. Bisa saja aku melakukan kesalahan dan beralibi bahwa aku khilaf! Lantas kenapa? Aku juga manusia. Toh mereka di luar sana banyak yang lebih melakukan dosa dari pada aku?

Namun suatu ketika Khaliq menyadarkanku akan sesuatu. Sesuatu yang sudah hampir aku pupuskan dari pikiran Karena penuh dengan rencana duniawi.
“Aku kurang enak badan bu. Bolehkah aku meminta teh hangat buatan ibu?” aku merengek manja kepada Ibu yang masih berkutat dengan laba rugi dagangan hari ini untuk dihitung.
“Nanti dulu. Aku masih ruwet dengan angka-angka ini. Suruhlah ayahmu atau adikmu untuk membuatkan teh. Kenapa selalu aku?” jawab Ibu santai tidak memalingkan wajahnya dari kalkulator.
“Ayolah...” aku tetap merajuk. Ibu menarik napas panjang. Sakit langgananku yang datang memang selalu membuatku lebih manja dari biasanya. Dan itu sedikit membuat Ibu kewalahan.

Ibu menyerah. Lantas ia masuk ke dapur dan beberapa menit selanjutnya terdengar dentingan gelas karena diaduk. Dan entah menit ke berapa ia kembali dengan membawa secangkir teh hangat lalu menyodorkan minuman itu kepadaku.
“Ini Segera habiskan kemudian minum obatmu” dengan cakap Ibu meraih kembali kalkulatornya.

Tak seperti ini biasanya. Sakitku semakin menjadi. Obat-obatan yang biasanya menjinakkan penyakitku, kini seolah-olah semakin memperburuk keadaanku.  Perutku melilit, bak diremas sekuat tenaga oleh tangan yang keras dan besar. Sungguh luar biasa nyeri. Hingga aku tidak bisa menggambarkannya dengan kata-kata. Membuat seisi rumah kerepotan untuk mengobatkanku kesana kemari.

Memang beberapa waktu yang lalu sudah sempat mereda. Namun anjuran dokter untukku agar aku tidak terlalu sering mengonsumsi mi instan tetap saja kuteruskan. Pecandu mi instan? Ya memang betul. Begitu kataku ketika dokter menanyaiku tentang mi instan. Alhasil melanggar anjuran dokter, perutku semakin terasa memburuk.
“Sudah Ayah dan Ibu bilang, untuk sementara waktu berhentilah memakan mi instan. Kau ini ingin menyusahkan kami?” Ayah tidak bisa menutupi rautnya yang jengkel kepadaku. Masih sakit pun aku sempat membantah kata-kata ayah. “Ayah ini cerewet”.

Ayah sudah semakin kesal, dan tidak mau tau dengan kondisiku. Sementara perutku terus menjadi, Ibu terus berusaha menanyai tetangga-tetangga rumah tentang obat tradisional yang mujarab mengobati sakit perut. Aku pun sempat menyesal telah membantah Ayah dengan berani yang berakibat kepada Ibu yang semakin kepayahan mengobatiku. Dan perutku sendiri yang sudah sangat memburuk kondisinya.

Sudah kubilang bukan? Aku hanya manusia biasa. Terkadang pun atau bahkan seringkali aku lupa aka dosa sehingga dengan enaknya melakukan kesalahan. Seperti membentak orang lain tanpa memikirkan resiko atau dosa. Begitukan sifat manusia? Ini hanya gambaran kecil yang pernah kualami agar dapat diambil hikmah. Namun ceritaku tak cukup sampai di sini.

Ibu kembali ke rumah dengan wajah yang sepertinya sedikit lega karena adanya kabar baik. Dengan semangat ia memberitahuku tentang obat tradisional itu. Ia memberitahuku perihal ‘JAMU’. Apa yang ada dibenakku tentang jamu ingin dengan cepat menyergah Ibu agar tidak benar-benar memberiku minuman tradisioal mengerikan itu sebagai obat perutku.
“Ibu serius?” tanyaku tentu saja sangat ragu.
“Apa lagi yang harus kulakukan? Kau ingin terus begini? Kita sudah ke dokter tapi tidak ada perubahan bukan? Jadi ini satu-satunya jalan. Jangan banyak membantah!” jawab Ibu panjang lebar.

Aku belajar mengambil hikmah untuk tidak membantah perkataan orang tua. Namun sejujurnya aku setengah hati sekali menerima saran Ibu agar aku minum jamu temulawak. Aku lantas mengomel dalam hati berdebat dengan nuarni memperdebatkan Ibu dan jamunya. Tapi keinginanku untuk sembuh mendorongku untuk harus benar-benar bisa menerima minuman itu.

Bukan sudah ku bilang? Aku manusia biasa yang tak luput juga dari kesalahan. Aku masih senang mengumpat, memendam unek-unek tak enak kepada orang lain. Bukankah begitu sifat manusia? Namun ini bukan inti dari ceritaku.

Ibu menuangkan minuman berbau aneh dan berwarna keoranyean pada gelas yang ada di tanganku. Ingin mual karena mencium aromanya yang masih asing bagi hidungku. Setelah itu pelan tapi pasti aku mulai meminumnya. Terasa sekali minuman itu melewati kerongkonganku dan terasa pahit. Rasa pahitnya memaksaku untuk segera menenggak habis ta tersisa. Agar lidahku tidak lama-lama merasakan kepahitan.

Selang beberapa jam selepas aku meminum jamu temulawak, perlahan perutku sudah mulai tidak terasa nyeri. Mula-mula berkurang perihnya hingga tinggal kembung, lantas hilang sama sekali rasa sakit itu. Keringat dinginku bercucuran. Namun Ibu tampak lega dengan kondisiku yang sudah jauh lebih baik dari pada sebelumnya. Aku sudah sembuh!

Sudah menemukan inti atau akhir ceritaku? Atau belum sama sekali? Biar kujelaskan. Aku membenci jamu. Namun dari jamulah Allah menyampaikan pesannya selain di dalam wahyu-Nya.
Jamu yang kuminum menyiratkan pesan. Jamu itu ibarat sebuah kehidupan yang diberikan oleh Tuhan. Dan si peminum jamu adalah aktor kehidupan. Rasa pahit yang ditawarkan ketika kau meminum jamu adalah diibaratkan seperti permasalahan pada kehidupanmu yang kau jalani terasa menyakitkan. Setelah kau berhasil meminum jamu itu hingga habis dan tak tersisa yang berarti kau melewati ujian hidupmu dengan ikhlas dan tawakkal, kau akan sembuh. Yang berarti kau menemukan kembali jati dirimu. Kau kembali fitri karena keikhlasan menjalani kehidupan yang sejatinya penuh dengan tantangan dan ujian dari Tuhan.

Jamu itu tidak pahit. Ketika kau meminumnya dengan sepenuh hati dan memikirkan manfaat dari jamu itu sendiri. Seperti ujian Tuhan yang tidak akan berat ketika kau menjalani ujian itu dengan rasa ikhlas dan mencari hikmah atas ujian yang diberikan-Nya.
Sekarang sudah jelas bukan maksud dari cerita abstrak ini?
SELESAI

Tidak ada komentar:

Posting Komentar