Jumat, 25 November 2016

Biarkan Aku Berdamai dengan Takdir

Dunia bisa katakan, sepucuk surat merah sudah menandakan cinta. Atau mungkin mawar merah. Tidak begitu menurut gadis berambut panjang itu. Matanya nan sayu menatap luas nanar ke depan hamparan savana. Menelanjangi setiap rerumputan beserta kehidupan di sekitarnya.

Hidup memang penuh cerita. Kisahnya mengantarkan kalian pada sebuah imajinasi kotor. Mungkin. Atau barangkali menampar keras kalian sebagai pemuda pemudi era globalisasi. Dialah Fanda. Kisah Fanda.

Kalian tak akan mengenal dan mengerti kisahnya sebelum aku bercerita. Perempuan ini, perempuan gadis yang janda. Mengutarakan sisi kehidupannya kepadaku dengan teramat tulus dan jauuh dari kata dusta. Perempuan kotor yang suci. Pahamilah artinya.

Mata sipit itu menyelidikku seakan-akan memastikan bahwa aku tak akan berniat untuk membongkar rahasianya. Aku dengan gesture yang kutampilkan berhasil memenangkan keyakinannya. "Mereka berhasil merenggutku. Aku dan jiwaku" katanya dengan lirih. "Oh ya? Apa yang mereka renggut?" Tanyaku.

"Sudah tak perlu ditanyakan. Mereka merenggut jiwaku"
"Apa yang sudah terenggut?"
"Jiwaku terenggut"
"Jiwamu?"
"Iya. Jiwaku" begitulah sepotong percakapan kami.

Dia kembali menatap semak belukar seberang yang asyik bergoyang ditiup angin sepoi. Lihatlah gadis ini. Apa yang dia katakan?

"Jiwaku terenggut" kembali ia bercakap.
"Lantas kenapa?"
"Semuanya redup. Mereka, beberapa remaja yang membeli harga seseorang dengan sangat murah!" Balasnya pilu.
Sudah mulai jelas kemana arahnya.

"Katakan perlahan-lahan"
"Kau tau? Kain putih telah tergores setitik air hina dari seseorang" tukasnya.
"Air hina itu membelah diri bak amuba. Mereka menjalari seluruh permukaan kain hingga basah. Lalu kain itu dibuang begitu saja layaknya sampah tak berguna" lanjutnya.

Ya. Seringkali alam bawah sadar lah yang menjerumuskan seseorang ke dalam lembah hitam. Dia-lah; salah satu orang yang terjerumus. Mungkin itu adalah kain berharga pasar loak. Namun  kujamin masih layak dipakai dan dipertahankan sisa-sisa permukaan sucinya.

"Ah Mbak... Bagaimana selaput merah ini bisa aku pertahankan. Jikalau banyak sekali para pemilik tembak menawarkan sejuta rayuan. Aku tergoda Mbak. Apa dayaku? Aku menukarkan selaput ini untuk para penembak jitu di luar sana. Yah, salah satu rayuan mereka mengenai hatiku" jelasnya dengan suara bergemuruh.

"Ah lalu sesudah itu aku hanya seperti menjadi seekor kerbau yang dicocok hidungnya. Manut saja. Dan saat itulah penembak jitu mulai berburu buruan yang baru. Tentu dengan menebar sejuta rayuannya" jelasnya lagi.

Sudah jelas sekali. Semakin jelas dan terang inti ceritanya.
"Sudah Dik. lalu bagaimana kelanjutannya?"
"Yaaa saya tentu merasa bodoh. Eh sudah bodoh malah datang lagi penembak yang lain; wah kali ini lebih jitu dari sebelumnya" jelasnya.
"Rayuannya terdengar nyata hingga melesakkanku dalam sebuah keindahan. Aku dengan ikhlas untuk kedua kalinya menjadi tempat perburuannya" lanjutnya.

Sesekali ia mendesah panjang, matanya yang tadi berair kini berangsur-angsur kering dan berbinar. Namun kusam lagi binar mata itu.
"Ah, penembak itu. Sungguh aku benar-benar dibuat melayang. Namun apa yang terjadi selanjutnya? Sama seperti dulu, ia melemparkanku jauh seperti sampah yang terlempar ke tempat pembuangan sampah umum. Berbaur dengan para sampah yang lain," tuturnya.

Laki-laki itu berhasil mengotori. Ia tak mudah menerima. Namun, sudah menjadi bagian dari hidupnya. Mau tidak mau ia pun harus berdamai dengan takdir.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar