Sabtu, 19 November 2016

Moccacino



MOCCACINO

Hiruk pikuk kota Jakarta terlihat jelas dari sini. Tapi tidak denganku. Seorang mahasiswi di salah satu universitas swasta di Jakarta. Saat semua orang sibuk dengan urusannya masing-masing aku malah disini. Duduk manis dengan secangkir matcha di kafe langgananku. Menikmati matcha di balik tirai kafe dan sesekali menghirup aroma segar hujan yang beberapa saat lalu turun. Mengingatkanku dengan seseorang dan juga suasana kafe langganan kami semakin membuat perasaanku tak menentu.
***
Semua ini berawal ketika aku, dan keluargaku maksudnya, mengalami sedikit masalah. Kami dihadapkan pada masalah yang berkaitan dengan SARA. Awalnya aku dan keluargaku tinggal di Kota Paris mengikuti ayahku yang memiliki bisnis disana. Tinggal disana sangat menyenangkan. Tetapi setelah beberapa bulan berjalan kami mulai ditimpa masalah.
Aku dan keluargaku adalah salah satu keluarga dari sekian banyak keluarga yang menganut agama Islam. Ya, kami muslim. Aku kira diskriminasi terhadap agama Islam di kota secanggih dan semoderen Paris telah lenyap dari dulu. Tetapi perkiraanku salah. Setelah sempat menikmati kehidupan di Paris selama beberapa bulan, ada salah satu tetangga kami yang jadi biang keladi. Sebut saja dia Mr.Collin. Orang itu berumur sekitar 30-an dan salah satu orang yang kurasa masih berpikiran kuno.
Kami sebagai umat muslim sudah tentu mengenakan pakaian yang sesuai dengan ajaran kami, tapi Mr.Collin menganggap ini semua adalah musibah dan ancaman baginya beserta keluarganya. Bodohnya, ia selalu menganggap kami adalah teroris. Apalagi dengan pakaian ibuku yang memakai jubah bercadar. Selama beberapa minggu ia terus mengusik kehidupan kami. Sampai-sampai ibu mulai depresi karena perlakuan gila Mr.Collin. Ayah yang tadinya keukeuh untuk tetap tinggal di Paris, akhirnya memutuskan memulangkan kami ke Jakarta.  Dan disinilah masalahku semakin menjadi.
Ibuku yang tadinya ‘baik-baik’ sekarang menjadi ‘tidak baik’. Seperti yang kukatakan tadi, ibuku depresi. Dan kali ini sasarannya adalah aku, putri semata wayangnya yang masih bisa dikatakan berstatus remaja. Ibu menjadi sangat selektif memilihkanku teman. Sejujurnya ini sangat bertentangan dengan kepribadianku yang cenderung agresif dalam memilih teman. Dan karena sikap ibuku seperti itu, aku jadi tidak mempunyai teman tetap. Kebanyakan dari mereka beralasan bahwa ibuku kurang ramah saat mereka sedang berada di rumahku. Hal ini dapat membuatku gila lama kelamaan. Sampai akhirnya aku mengenal sesorang yang bernama Guruh.
Mungkin kalian akan mengira bahwa Guruh adalah cowok pribumi Jawa. Begitu juga denganku ketika pertama kali namanya digemakan. Dia adalah cowok bule yang tinggi sekali dengan kulit putih dan tak luput bintil-bintil cokelat di pipi. Bola matanya berwarna hijau safir. Guruh adalah mahasiswa baru yang berasal dari negara Perancis. Aku mulai mengenalnya ketika kami berada dalam satu ukm yang sama.
“Sial! Ban motorku bocor” aku menggerutu ketika mendapati ban depan motorku yang kempis.
“Hey, what’s going on? Apakah kamu mempunyai masalah?” dan Guruh datang lalu bertanya padaku dengan bahasa Indonesia yang masih kental dengan aksen Britishnya.
“Ini nih banku bocor. So, i can’t back to home”
“Leave your motorcycle here. Nanti akan kuteleponkan orang bengkel langgananku untuk memperbaiki. Dan  aku bisa mengantarkanmu pulang”.
Baik. Respon pertamaku adalah senang karena aku bisa secepatnya pulang tetapi respon keduaku adalah takut, karena jika ibu sampai tau aku dibonceng cowok pasti akan berujung masalah besar. Sedangkan aku harus secepatnya pulang karena masih ada tugas kuliah yang harus kuselesaikan. Aku ingin menolak bantuannya tapi aku merasa aku sangat membutuhkan bantuannya.
“Bagaiman Hening?” ia menanyaiku sekali lagi dan merusak lamunanku. Secara spontan aku menganggukan kepala.
“Okay. Follow me” tukasnya. Aku hanya bisa mengekor di belakangnya sambil berdoa semoga semua akan baik-baik saja.
***
 Aku sedikit lega karena aku berhasil masuk ke dalam rumah tanpa ibu tau kalau aku tadi diantar pulang oleh Guruh.
“Hmmm” Ya Allah dehaman ibu terasa bak petir di musim kemarau. Setengah mati mengejutkanku.
“Tadi pulang sama siapa Lea?”
“Nnngg.. Hening pppulang samma” ibu berhasil membuatku menjadi gagap seketika.
“Ibu tau kamu pulang sama cowok” suara ibu meninggi.
“Sudah berapa kali ibu bilang? Jangan bergaul sembarangan! Apalagi sama cowok. Kalian bukan muhrimnya”.
Seharusnya sudah kuduga ini akan terjadi. Dan seharusnya aku menolak tawaran Guruh. Ibu sangat marah kepadaku. Akibat insiden itu, aku dan ibu jadi saling diam. Mata ibu menyiratkan kekecewaan dan kemarahan besar. Aku hanya bisa diam menunggu ibu memulai percakapan.
Ponselku berdering memecah keheningan rumah. Kulirik layar ponselku yang sedang berkedip-kedip. Layar itu menampilkan nomor yang belum kusimpan di ponsel.
“Assalamualaikum dengan siapa ini?”
“Selamat pagi. Aku Guruh” jantungku berdegup.
“Ada apa Guruh? Ada yang ingin kamu bicarakan? Oh ya, darimana kamu mendapat nomor teleponku?”
“Stay calm Hening. Let me answer your questions one by one hahaha” terdengar tawanya yang setengah meledekku.
“Ya baik. Baiklah”
“Seminggu lagi akan ukm kita akan megadakan seminar bukan? Dan kita adalah panitia seminarnya. Apakah kamu sudah menyusun jadwal acara seminar? Kalau belum, can we finished all together tomorrow? Karena aku juga bingung dengan susunan anggaran untuk seminar”. Bingo! Dia bertanya lebih panjang dan mbulet dariku.
Kalau aku menerima jelas masalahku dengan ibu akan membesar. Tetapi ini untuk kesuksesan acara seminar ukm ku. Dan aku selaku panitia juga harus ikut andil dalam penyuksesan acara itu. Ya Allah berilah aku petunjuk. Baiklah, mungkin resiko untuk ketahuan ibu akan kecil. Karena aku mengerjakan di kampus.
“Ya, baik. Tapi jangan pulang terlalu malam ya? Besok aku pagi pukul 7 ada kuliah, siangnya pukul 12 aku ada kuliah kemudian pukul 3 sore aku juga ada kuliah” jelasku.
“Tenang saja nona. Tidak akan lama. Tapi aku juga tidak bisa janji ya”
“Terserah apa katamu”
“Ok begitu saja. Oh ya soal darimana aku tau nomor ponselmu, Rengga give me your number when i ask him”.
***
Ini di luar dugaan. Guruh mengajakku ke sebuah kafe untuk mengerjakan tugas kami. Awalnya aku sudah menolak habis-habisan. Tapi entah senjata apa yang ia gunakan, sehingga aku bisa menerima ajakannya. Dasar bule gila.
Sesampainya di kafe, alih-alih mengerjakan tugas kami malah bercakap-cakap dengan Guruh yang asik menikmati matcha pesanannya. Ya, kami lupa dengan tujuan awal kami datang kesini. Bodohnya diriku.
“Kamu tau? Awal aku datang ke Jakarta sempat terkejut dengan macetnya. Sampah-sampah berserakan. Pokoknya random city banget Jakarta. Tapi lama kelamaan aku sudah terbiasa. Bagaimana denganmu yang asli penduduk disini?” katanya panjang lebar sambil sesekali meminum secangkir matchanya.
“Sebenarnya bukan asli juga sih. Aku lahir di Yogyakarta, tapi ayahku mempbangun rumah di Jakarta, kemudian tahun lalu aku sempat tinggal di Kota Paris”
“Wow! U are alive everywhere hahaha. Okey tell me again” candanya yang kurasa tidak lucu.
“Karena beberapa insiden tidak mengenakkan keluarga kami, akhirnya aku dan ibuku kembali ke Jakarta” jelasku sambil mulai mencomot sedikit demi sedit bagian dari red velvet muffin pesananku. “Insiden apakah itu?” dan kurasa bule ini memiliki rasa ingin tahu yang tinggi.
“Maaf aku tidak bisa mengatakan lebih dari ini. May be if i tell u about this u’ll hate me. Kamu akan anggap aku ini rasis atau apalah” terangku. Seketika mimik muka Guruh menjadi serius.
“Ah baiklah. Everyone have some privacy” dan ia kembali menikmati matchanya untuk mencairkan suasana.
“Entah harus berapa kali ibu menasehatimu. Kamu tetap melakukan kesalahan yang sama Hening” tukas ibu lantang-lantang ketika aku berada di rumah dan seolah-olah tau darimana aku pergi. Aku hanya bisa mendengar cacian ibu dan sesekali mengusap mataku yang telah berair.
“Jauhi dia atau jangan pernah panggil aku ibu” Kali ini ibu menunjukan kemarahan yang besar.
Dan sejak percakapan di kafe itu, kami semakin intensif. Dari yang sekedar mengerjakan tugas ukm atau tugas kuliah bersama dan mengobrol di kafe seperti biasanya. Guruh juga semakin rutin memperhatikanku di kampus. Setiap hari ia selalu berusaha menghubungiku. Meskipun aku sudah mengatakan kepadanya bahwa ibu akan marah jika tau soal ini. ‘I don’t care. Don’t u miss me too?’ jawabannya selalu sama.
Ketika waktu melemparku pada insiden di Paris. Aku teringat akan sesuatu. Guruh adalah warga negara Perancis asli. Seketika itu juga aku berpikiran bahwa Guruh akan memperlakukanku hal yang sama seperti yang dilakukan oleh Mr.Collin beberapa waktu silam. Aku juga mulai sadar bahwa Guruh beragama Kristen. Terlebih kejadian tadi malam ibu terlihat benar-benar marah kepadaku. Ya Allah, kadang aku berpikir mengapa aku dipertemukan dengan seseorang yang saat ini kutaruh perasaanku padanya tetapi pada akhirnya kami terpisah jua karena berbeda keyakinan.
Aku benar-benar memutuskan untuk mundur perlahan dari kehidupan Guruh. Setiap menatap manik matanya aku merasa aku tidak mampu. Maka kualihkan pandanganku seketika. Hal itu membuat Guru bingung sekaligus sedikit panik. Mungkin ia merasa bahwa ia telah melakukan kesalahan kepadaku. Tapi justru inilah kesalahanku. Membiarkan perasaan ini datang dan tumbuh untuknya.
“Hening apakah aku sudah melakukan kesalahan kepadamu?” tanyanya sembari mearih pergelangan tanganku. Ibu tidak mengajarkan ini padaku. Kemudian kutepiskan tangannya.
“Wait me! I’m sorry that i have some mistake to u. May be it just accident. Maafkan aku. Jangan bertingkah seperti ini” kali ini ia menggenggam pergelangan tanganku lebih erat. Dan aku tau, ia bertubuh jauh lebih besar dari tubuhku. Aku jadi sedikit kewalahan karena cengkramannya.
“Aku akan katakan tapi lepaskan dulu tanganku” kataku tegas.
“Maaf tidak bisa. Kita harus bicarakan ini di kafe. Let’s follow me” Guruh menggandengku dan ia melangkahkan kakinya lebar-lebar. Membuatku harus sedikit berlari untuk menyamakan langkahnya.
Mobil putih Guruh berhasil terparkir di pelataran parkir kafe. Masih dengan tangan yang memegang setir mobil, ia mengamatiku yang masih asik memandang ke luar jendela. Asik dengan pikiranku sendiri tentunya. Dari sudut mata dapat kulihat jika tangannya hendak menyentuh jilbabku namun ia urungkan. Guruh pun melepas safety beltnya kemudian turun dan membukakan pintu mobil untukku.
“Miss saya pesan one cup hot matcha. Hening apa yang ingin kamu pesan?” ia bertanya padaku setelah mengatakan pesanannya kepada serang waitress.
“Terserah kamu saja. Aku sedang tidak ingin apa-apa” dan aku berusaha sekuat tenaga untuk menahan air mataku agar tidak tumpah di depan Guruh. Lalu aku mendengar desah nafas Guruh.
“One cup ice moccacino with red velvet muffin” bahkan dia sudah hafal dengan menu favoritku di kafe ini. “Aku tahu kamu akan memesan menu ini jika kamu sedang menginginkan makanan” ia menorehkan senyumnya kepadaku. Aku terjebak dengan perasaan dan pikiranku sendiri.
Dan benteng pertahananku jebol. Sebulir air mata jatuh menghiasi pipiku. Sesegera mungkin aku mengahpusnya. Namun terlambat. Guruh melihat bulir air mata itu dan ia terlihat cemas. Ia menghapus air mataku dengan salah satu jari telunjuknya.
“Katakan semuanya padaku mengapa akhir-akhir ini kamu seperti menghindariku?” ia bertanya tepat pada poin permasalahan. Baik mungkin ini sudah waktunya aku menceritakan semua padanya.
Sepersekian detik badan tegapnya mendekapku dan membuat tangisku semakin pecah. Guruh membelai kepalaku membuat aku merasa aman dan tenang berada di pelukannya. Sesekali ia melepas peluknya dan menatap mataku dalam-dalam.
“Kamu tahu? Ternyata sebenarnya kita telah merasakan perasaan yang sama. Aku juga berpikir bahwa perasaanku akan terhalang oleh keyakinan kita” tuturnya yang semakin membuatku terisak. Oke, aku tidak peduli dengan pandangan-pandangan ingin tau para pengunjung di kafe ini.
“Seandainya semua ini harus diperjuangkan, aku akan memperjuangkan semampuku. Trust me” lanjutnya kemudian memelukku lagi.
“Kamu yakin akan malnjutkan perasaan ini?” tanyaku sangat tidak yakin dengan pernyataannya barusaja.
“Apakah selama ini aku pernah melakukan sesuatu yang meleset dari omonganku?”
“Ya memang benar kamu tidak pernah melakukan sesuatu yang meleset dari omonganmu. Tapi sungguh ini berbeda persoalan dan persoalan ini akan melibatkan Tuhan, keluarga kita. Apa aku harus menjadi umat Kristen agar kita selalu bersama?” sahutku sudah berputus asa dan tak terkendali. Dan lagi-lagi Guruh menatapku dengan lensa matanya yang kehijauan safir.
“Jangan. Pertahankan agamamu. Karena aku tahu, kebiasaan agamamu yang selama ini menjadi rutinitasmu akan menuntun manusia untuk menjadi lebih baik. Kali ini aku akan membuktikan bahwa aku benar mencintaimu, dengan cara aku akan menjadi pria muallaf” kalimatnya terdengar pasti dan paten saat ia mengakhiri menjadi seorang Muallaf.
“Katakan pada ibumu bahwa aku akan menjadi muallaf dan aku akan segera melamarmu” lanjutnya. Aku benar-benar terharu.
“Tapi bagaimana dengan keluargamu?”
“Mungkin awalnya mereka tidak bisa menerima. Tapi percayalah mereka akan menyerahkan jalan hidupku di tanganku sendiri”.
***
Cowok bule itu berhasil melantunkan tiga kalimat syahadat di depanku, ibuku dan para saksi tentunya. Kini ia sudah menjadi umat muslim. Sama sepertiku dan ibuku. Ibu tersenyum dan menangis haru, akupun begitu.
Guruh mencium punggung tangan ibu. Tampak sekali raut kebahagiaannya. Namun sebersit rasa bersalah sekilas terlihat di matanya. Mungkin ia bingung apa yang harus ia katakan kepada keluarganya. Entah perasaan apa yang seharusnya saat ini aku rasakan. Bercampur aduk.
“Aku sudah mengatakan semuanya pada keluargaku, mereka ingin aku kembali untuk sementara waktu. They needed time to anything about us. Aku berjanji setelah semuanya selesai aku akan menikahimu. I promise u” kata-kata itu meluncur begitu saja. Mau tidak mau aku harus terpisah sementara dengannya.
Senyuman itu, sorot mata itu. Bola mata hijau safir itu. Aku melihat semuanya hanya dalam hitungan menit, sebelum akhirnya si empu benar-benar lenyap dari pandanganku. Aku telah memberinya sebuah Al-Qur’an agar ia pelan-pelan dapat mempelajari saat ia berada di negara kelahirannya.
***
Aku kembali dalam waktu yang berbeda dengan keadaan yang berbeda. Ponselku berdering pendek menandakan adanya sebuah pesan singkat masuk. Sebuah nomor yang tidak kukenal. Lantas kubuka pesan itu.
From: 041500321177
Menolehlah ke belakang

Aku memutar kepalaku. Pemilik senyuman indah itu berada di depanku. Masih dengan lensa mata hijau safirnya. Tangan kanannya melambai ke arahku, dan saat ini Allah telah mengindahkan skenario hidupku. Ia datang untuk menepati janjinya dua tahun silam. Dan kini aku mulai mengerti bahwa seberat apapun permasalahanku, seberapa campur aduknya, aku tidak perlu meninggalkan keyakinanku. Karena aku akan tetap menjadi seorang muslim dan kuyakin Allah akan memberikan jalan keluar bagiku.  

SELESAI

Tidak ada komentar:

Posting Komentar